Dari luar FZ-16 punya segalanya buat jadi pusat perhatian, tampangnya sangat berotot-kalau diibaratkan lelaki pasti fitnes setiap hari. Penampilannya juga unik, FZ-16 adalah pelopor pengguna midship muffler di Indonesia. Tambahan lagi head lamp benar-benar menyiratkan tampang muscle bike-sesuai dengan trend naked bike di Eropa. Kaki-kaki juga kekar, dengan spec roda belakang 140/60 bisa bikin begidik V-Ixion yang cungkring. Panel informasi sudah pakai digital, lumayan keren dan terlihat simpel (tidak terlihat bentuk dua cangkang bunder ala panel biasa).


Jujur meskipun sebagai pengguna Apache, sepak terjang motor besutan TVS ini tidak bisa dianggap istimewa-bahkan dibandingkan dengan Pulsar.

FZ-16 (atau Bison) masih hangat-hangatnya jadi topik pembicaraan di mana-mana. Mumpung masih hangat yuk kita lihat kemampuannya melawan dua pendekar 160cc yang sudah lenggang kakung di Indonesia: Apache dan Megapro.
FZ-16 (Bison)
Sayangnya segala “keganasan” tampang tersebut harus dibayar dengan teknologi yang konvensional dibandingkan dengan kakaknya. Mesin masih berpendingin udara, masih karburator, rangka juga masih tipe diamond. Rem belakang juga masih “khas” Yamaha yang pelit memberi set cakram belakang.
Soal harga perkiraan ada di bawah V-Ixion yaitu di angka Rp 18-19 juta. Harga segitu wajarlah apalagi dengan harga di bawah V-Ixion sudah bisa dapat motor kekar
Apache
Tampang Apache kental dengan aura India terutama batok depannya. Sama seperti Pulsar dan XCD yang setia bebatok lampu, Apache juga setia dengan pakem motor sport di India yang berbatok ria. Bagi sebagian orang headlamp Apache dirasa terlalu besar untungnya bisa dinetralisir oleh air duct (khusus tipe Dual Disc). Dari samping motor ini tidak ada yang menonjol kecuali mungkin terlihat kekar. Lampu belakang sudah ber-LED ria namun sayangnya bentuknya tidak seganas Pulsar.
Soal fitur cukup oke walaupun masih bermesin konvensional. Panel informasi memadukan digital dengan analog, ada takometer analog dengan spedometer digital, jangan lupa Apache juga dilengkapi dengan jam :-D . Ada juga varian dual disc (seperti punya saya) yang dilengkapi cakram belakang, jangan lupa varian standar selain tidak bercakram belakang juga tidak memiliki air duct.
Soal harga untuk standar Rp 17.5 juta dan Rp 18.5 juta untuk dual disc.
Megapro
Ehem sebenarnya membahas Megapro cukup sulit soalnya motor ini bisa dibilang ala kadarnya.
Tampilan Megapro adalah…aman. Tidak ada tarikan garis yang neko-neko di sini semuanya dirancang bersih dan tidak banyak ulah. Tapi jujur saja peralihan bodi beberapa tahun lalu juga tidak mampu menolong Megapro untuk sekekar saudara tuanya-Tiger. Tapi oke walaupun tampilan terkesan bapak-bapak kantoran setidaknya bagi anda yang low profile, Megapro adalah pilihan tepat.
Fitur yang diusung Megapro bisa dibilang tidak istimewa. Panel informasi masih analog, tidak ada cakram belakang, mesin konvensional, minus lampu LED, dsb. Tapi diluar itu semua masih ada jaminan after sales AHM (AHASS ada dimana-mana) dan harga jual kembali yang stabil.
Untuk harga, Honda mematok banderol Rp 19,3 juta untuk SW dan Rp 20,5 juta untuk CW (termahal di kelasnya eh???)
Komparasi performa di atas kertas
Sekarang mari kita lihat tenaga masing-masing. FZ-16 mampu menghasilkan tenaga sampai 14bhp @ 7500rpm. Apache mampu mengungguli dengan 15,2 bhp @ 8500rpm. Sedangkan Megapro ada di posisi buncit dengan tenaga 13,3 bhp @ 8500rpm.
Kalau dilihat Apache memang unggul soal besarnya tenaga, namun FZ juga bisa menyaingi karena tenaga puncak FZ didapat di putaran yang lebih rendah. Apache perlu rpm lebih tinggi karena mesinnya mengusung overbore.
Lalu kita lihat torsi masing-masing. FZ-16 menghasilkan torsi sebesar 13.9Nm @ 6000rpm. Apache berada di bawahnya dengan torsi 13.1Nm @ 600orpm. Sedangkan Megapro lagi-lagi ada di posisi buncit dengan torsi 12.7Nm @ 6000rpm.
Dilihat dari karakter tenaga, torsi, dan putaran mesin FZ lebih cocok bermain di lingkungan perkotaan yang padat karena tenaganya cocok untuk stop and go. Untuk Apache lebih nikmat untuk bermain putaran tinggi di sirkuit atau luar kota. Dan Megapro ehem…performanya memang paling buncit diantara ketiganya.
Tapi itu di atas kertas, kenyataan di lapangan bisa berkata lain…
Oke kesimpulannya untuk perkotaan dan urusan tebar pesona FZ-16 jagonya, buat Apache lebih cocok untuk yang suka turing maupun performa tinggi, sedangkan untuk jiwa low-profile, kemudahan 3S, dan harga jual terjamin bisa memilih Megapro.
Itu dulu dari saya, tapi cara mengkomparasi terbaik memang dengan mencoba satu-satu, silahkan pilih motor berdasarkan kebutuhan dan karakter…

http://fanderlart.wordpress.com/2009/08/28/komparasi-sport-160cc-fz-16-bison-vs-apache-vs-megapro

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Top