Ada dua terminal di Kota Blora. Terminal lama dan terminal baru. Terminal lama terletak tak jauh kearah timur dari pusat kota, sedangkan terminal baru radius 4km-an arah timur pusat kota Blora. Terminal lama ada di depan stasiun, stasiun ini sudah 30 tahunan tidak ada aktivitas apapun. Dulunya stasiun ini merupakan stasiun utama di Blora, terhubung dengan jalur kereta api dari stasiun kereta api Ngareng Cepu, Jepon, Blora, Kunduran dan Purwodadi.
Area terminal lama kota Blora sekarang tidak jelas penggunaannya, hanya sesekali saja dijadikan lokasi pameran pembangunan, pasar malam, konsolidasi partai politik, dan event-event otomotif. Namun meskipun tidak lagi menjadi tempat nge-tem bus-bus besar, aktivitas transportasi tetap saja berjalan. Bahkan lokasi sekitar terminal ini menjadi pilihan utama masyarakat saat menunggu bus jurusan Cepu maupun jurusan Semarang. Namun kebanyakan warga masyarakat yang akan menumpang bus jurusan Semarang lebih memilih menunggu di perempatan Biyandono Blora.
Dengan sendirinya, terminal baru yang diberi nama terminal Gagak Rimang nyaris tidak difungsikan oleh masyarakat. Masyarakat lebih memilih tempat-tempat semacam terminal lama maupun perempatan-perempatan strategis lain saat menunggu bus. Hal ini disebabkan letak terminal baru ini yang jauh dari pusat kota, sehingga masyarakat harus mengeluarkan dana tambahan lagi bila harus menunggu bus di terminal ini.
Nama Gagak Rimang mengambil dari nama kuda titian pahlawan pembela rakyat Cepu-Blora Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Penangsang. Kanjeng Haryo Penangsang sudah seharusnya menjadi teladan bagi para pejabat di seluruh wilayah Kabupaten Blora. Ketika tukang sabit rumput kudanya dipotong telinganya oleh salah seorang pejabat Pajang, beliau murka. Sudah menjadi harga mati bagi beliau bahwa rakyat adalah segalanya!.
Entah benar atau tidak cerita rakyat ini, karena tidak dibuktikan dengan adanya perkamen, prasasti, maupun dokumen ataupun laporan jurnalistik yang objektif, hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Menurut penulis, tukang sabit rumput hanyalah suatu analogi saja untuk menggeneralisir rakyat kecil. Hingga dapat diartikan pada saat itu pihak Kerajaan Pajang melakukan penyiksaan terhadap rakyat Jipang Panolan. Hal itulah yang membuat Kanjeng Haryo Penangsang tidak tinggal diam. Cerita selanjutnya silahkan Anda reka-reka sendiri, atau menurut saja pada pakem cerita rekaan yang sudah ada, itu terserah Anda.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top